Apakah Tubuhku Memang Milikku?
Published on 06/09/2026
Category: Gender, Op-ed, Sexuality
Tubuh sudah menemani kita sejak lahir, tapi anehnya tidak selalu terasa akrab. Kadang ia terasa asing; saat berdiri di depan cermin, atau ketika di luar rumah dan muncul rasa seperti sedang diperhatikan banyak orang. GSHR mengajak sejumlah orang untuk bercerita tentang hubungan rumit ini lewat sebuah formulir. Dari jawaban yang masuk, terlihat bahwa tubuh bukan sekadar wujud fisik yang harus diatur atau diperbaiki. Ia lebih mirip sebuah hubungan: kadang melelahkan, kadang berjarak, tapi selalu ada untuk membersamai kita.

Beberapa waktu lalu, GSHR menjaring jajak pendapat untuk mengeksplorasi pengalaman yang dimiliki setiap orang terkait tubuhnya melalui pengisian formulir. Formulir tersebut memuat pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana seseorang memaknai tubuhnya, nilai apa saja yang memengaruhinya, dan bagaimana perbedaan pengalaman itu bisa saling membuka pemahaman keberagaman manusia.

Peserta bebas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sejauh mereka merasa nyaman. Mereka juga bisa menentukan apakah pengalaman tersebut dapat dibagikan sebagai bahan refleksi bersama. Tulisan ini merupakan hasil kurasi fasilitator GSHR dari peserta yang menyatakan bersedia ceritanya dibagikan.

Dari jawaban-jawaban yang masuk, kita diajak bergerak menuju kesadaran baru; bicara soal tubuh, yang mana persoalannya tidak sederhana. Tubuh bukan hanya wujud fisik, melainkan ruang yang dapat dinilai, dipertanyakan, dan dinegosiasikan.

Tubuh yang Dekat Sekaligus Asing

Ada momen-momen dalam keseharian ketika tubuh terasa seperti entitas asing. Ketika kita berdiri di depan kaca sebelum berpakaian, misalnya. Atau saat kita berada di luar rumah dan muncul perasaan seperti sedang diperhatikan oleh banyak orang. Tubuh menjelma jadi sesuatu yang tidak sepenuhnya tunduk dalam kehendak kita. Ia menjadi sesuatu yang tampak, yang bisa dinilai, bahkan dipertanyakan terang-terangan.

Ketika peserta diminta menyebutkan apa yang terlintas saat mendengar kata “tubuh”, jawabannya pun beragam. Ada yang menulis, “saya, all about me”, “vesel yang menopang kehidupan”, atau “spesial”. Tapi di saat yang sama, muncul juga kata “jijik”, “buruk dan bingung”, “badan gendutku”, dan “kanvas yang penuh coretan”.

Sebagai wujud fisik yang menemani kita sejak lahir, tubuh memang dekat dengan kita, namun hubungan kita dengannya tidak selalu akrab. Tubuh bisa menjadi bagian diri, tapi juga bisa terasa seperti wujud lain yang terpisah dan berdiri di hadapan kita.

Kesadaran tentang tubuh bisa muncul ketika ada cukup jarak untuk mengamatinya. Misalnya, saat kita sedang sendirian dan pikiran mengembara, ketika meminjam bantuan cermin untuk mengamati setiap lekuknya, atau ketika membiarkan diri kita tampil di ruang publik. Salah satu peserta menuliskan, “paling sering kalau lagi di luar rumah atau zona nyaman, rasanya kayak semua orang memperhatikan aku.”

Pada titik tertentu, tubuh tidak lagi masuk kewenangan privat. Tubuh ikut masuk ke dalam pandangan orang lain.

Menariknya, penilaian tentang tubuh tidak selalu dilontarkan secara tegas. Asumsi soal tubuh bisa terjadi dan menetap di alam bawah sadar. Lewat media sosial, kebiasaan membandingkan diri,  dan standar yang dianggap kelaziman, kita ikut membentuk penilaian tentang tubuh. “Tidak ada (yang mengatur tubuhku) secara eksplisit,” tulis seorang responden, “tetapi melihat berbagai konten di sosial media akhirnya membuatku menilai tubuhku dengan cara tertentu.”

Tanpa sadar, kita belajar melihat diri kita, tubuh kita, dari kacamata yang bukan milik kita.

Meskipun ada juga pengalaman yang menyatakan, tubuh merupakan arena pertarungan yang dinilai terang-terangan. Ada pasangan yang mensyaratkan bentuk tubuh tertentu. Ada keluarga yang mengomentari panjang rambut atau cara berpakaian. Ada lingkungan yang merasa berhak memberikan aturan main untuk kita patuhi.

Dalam satu cerita, partisipan menggambarkan bagaimana tubuhnya pernah disanjung, lalu dibatasi, diatur siapa yang boleh dan tidak boleh melihatnya, hingga akhirnya dipaksa dan disakiti. Tubuh tidak lagi sekadar dinilai, melainkan diambil alih.

Pengalaman lain mungkin tidak sampai sejauh itu, tapi tetap meninggalkan bekas berkepanjangan. Ada yang masih mengingat dengan jelas komentar yang didapatnya tentang berat badan sejak kecil. Ada yang mengalami perundungan di sekolah, disebabkan bentuk tubuhnya yang dianggap tidak ideal atau berbeda dari teman-temannya. Berkali-kali teguran tentang cara berpakaian yang dianggap tidak sesuai dilontarkan. Hal-hal di atas terekam dalam memori orang-orang yang menjalaninya.

Partisipan lain menulis bahwa ia sudah merasa dirinya “gemuk” sejak usia lima tahun, dan perasaan itu masih terbawa sampai sekarang. Meskipun ia telah bertumbuh dewasa dan situasi yang dihadapinya berubah, tapi caranya melihat tubuh sendiri tidak banyak berubah.

Ada juga yang menuliskan pertentangan batin yang dia rasakan dengan tubuh fisik yang dimiliki. Tubuh fisiknya yang menunjukkan ciri laki-laki, pada suatu waktu telah menghalanginya menunjukkan keakraban. Ia khawatir pelukan hangat yang ingin diberikan dimaknai secara seksual, alih-alih sebagai bentuk ketulusan dukungan.

Dari sini, terasa bahwa tubuh bukan sesuatu yang sepenuhnya kita kuasai. Tubuh adalah interaksi tarik-menarik antara apa yang kita rasakan, apa yang orang lain lihat, dan apa yang dianggap seharusnya.

Tubuh yang Membersamai Kita

Di tengah semua pergolakan itu, tubuh kita tidak berhenti bekerja.

Tubuh mengingatkan kita ketika lapar. Tubuh melawan penyakit. Tubuh terus bergerak, bahkan ketika kita lelah, abai, atau merasa tidak menyukainya. Salah satu peserta menjelaskannya, “she does all the easy and the not-so-easy work… she also protects me always.”

Tubuh melakukan banyak hal tanpa kita sadari.

Mungkin itu sebabnya, ketika diminta mengirim satu pesan untuk tubuhnya, banyak orang yang memilih untuk meminta maaf. “Maafin aku,” tulis seseorang, “maaf aku bikin kamu sakit.” Tulisan lainnya menyatakan, “terima kasih sudah menopang kehidupanku… aku akan menjagamu sebagaimana kamu menjagaku.”

Namun, ada juga juga yang mempertanyakan, “kenapa masih bertahan?”

Alih-alih mengharapkan jawaban, pertanyaan tersebut dilontarkan sebagai bentuk pengakuan, atau bahkan keheranan pada tubuh yang selalu mencari jalan untuk bertahan. Ada jarak, ada luka, ada hal-hal yang belum selesai. Tapi di saat yang sama, tubuh itu tetap ada membersamai kita.

Barangkali selama ini kita terlalu sering melihat tubuh sebagai objek yang harus diatur, diperbaiki, atau disesuaikan. Padahal dari cerita-cerita ini, terlihat bahwa tubuh lebih mirip sebuah hubungan. Hubungan bisa rumit, kadang melelahkan, tapi memungkinkan untuk dinegosiasikan. Kita bisa mengakui bahwa tubuh ini tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, tapi tetap memilih untuk hidup bersama dan di samping kita.

***

Catatan:
Formulir ini adalah langkah awal dari program refleksi ketubuhan yang diinisiasi oleh Program Seksualitas GSHR. Bagi peserta yang bersedia, percakapan ini akan berlanjut dalam sesi refleksi daring yang dipandu fasilitator. Dalam sesi tersebut, peserta akan diajak untuk berbagi pengalaman dan pemaknaan mereka tentang tubuh dalam ruang yang aman, lalu bersama-sama mengolah refleksi tersebut menggunakan medium zine digital.

Dengan begitu, cerita-cerita ini tidak berhenti sebagai jawaban singkat di dalam formulir. Ia menjadi bagian dari percakapan yang lebih panjang; tentang bagaimana kita hidup, memaknai, dan membangun ulang relasi dengan tubuh kita sendiri.

***

Refleksi ini ditulis oleh Annisa Khaerani (Analyst, Sexuality Programme) dan di-review oleh Anatasia Wahyudi (Officer, Communications) dan Rickdy Vanduwin (Director, Climate Programme).

Want to write for us?

Latest articles

When Progress Demands Sacrifice: Women Defenders in Indonesia

When Progress Demands Sacrifice: Women Defenders in Indonesia

Fourteen people from Sagea, North Maluku, are facing criminalisation for protesting mining activities conducted by PT Mining Abadi Indonesia (MAI) in February 2026 (Suprayogi, 2026). The mining industry is trying to mine the karst environment in Yonelo Well, even...

Kisah Perempuan dan Masyarakat Adat di Balik Tambang Nikel

Kisah Perempuan dan Masyarakat Adat di Balik Tambang Nikel

Beberapa waktu lalu, berbagai media menyoroti kerusakan lingkungan di Raja Ampat akibat aktivitas pertambangan nikel. Namun, di balik ramainya pemberitaan seputar pariwisata dan lingkungan, dampak sosial terhadap masyarakat adat dan perempuan sering kali luput dari...

Share This